Medan , MDNews - Untuk kedua kalinya, sekelompok Pemuda Nias berkumpul di jalan Danau singkarak nomor 10i medan, Minggu (30/7/2017) dengan agenda melanjutkan pertemuan yang lalu di cafe caldera jalan Sisinga Mangaraja Medan.
Berangkat dari Pemikiran sekelompok Pemuda Nias,Yang Mana Ideologi Pancasila adalah merupakan Dasar Negara yang tidak bisa di Tawar tawar lagi dan Sumber dari segala sumber hukum maka, Sebagai Anak Bangsa dan Bagian Dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Berkewajiban Untuk Mengisi Kemerdekaan ini dengan Berbuat Sesuatu Yang Positif Terkhusus Dalam Hal Menegakkan Keadilan Yang Bermartabat.
Turut Hadir di pertemuan tersebut, Sekjen Formani (Forum Masyarakat Nias Indonesia) Bung Edison Gulo, Ketua Umum DPP Aliansi Jurnalis Hukum (AJH) Bung Dofuzogamon Gaho, Praktisi Hukum Penglaman Laia SH.dan Rekan rekan Pejuang Pemuda Nias Yang Juga sebagian besar dari Kalangan Mahasiswa.
Lahirnya LPN, menurut Pengalaman Laia,SH
disebabkan berbagai persoalan atau tragedi yang dialami suku Nias hingga
saat ini masih mengisahkan segudang pertanyaan, Ormas yang sudah ada
harus didukung untuk menjawab berbagai tantangan tersebut.
" LPN hadir bukan menentang yang sudah ada akan tetapi
bergandengan tangan satu dengan yang lain untuk bersama memberi advokasi
ataupun memperjuangkan hak - hak dari suku Nias yang terzolimi,"Tegas Pengalaman Laia SH.
Hal senada juga diungkapkan Edison Gulo, Bahwa Kehadiran LPN bukan
membela yang salah, Akan tetapi memberi keteduhan dalam memberi
pendampingan baik secara advokasi dan penyuluhan hukum serta menjadi
solusi pemersatu dalam hal tolong menolong sesama tanpa membeda-bedakan
kaya dan miskin.
"Kedepan LPN harus mampu menjawab segala bentuk tantangan
yang dihadapi suku kita di perantauan, Dan segala image jelek tentang
Suku Nias harus mampu memberi penjelasan dengan cara humanis.
" Kenapa saya katakan demikian karena, mendengar kata Nias
terkadang membawa kesan tersendiri bagi setiap orang yang
mendengarkannya, Jika orang-orang tertentu yang mempunyai kenangan manis
maka pujian terhadap suku nias menjadi kebanggaan. Tapi bagi orang lain
yang punya kenangan buruk, mungkin menimbulkan trauma. Maka dari itu
tindakan anggota LPN kedepan harus Berani Frontal Tehadap Kezoliman dan Tetap Intelektual, "ucap
Edison.
Sementara Ketua Umum DPP Aliansi Jurnalis Hukum ( A.J.H ),
Dofuzogamon Gaho menyampaikan dukungannya terhadap pembentukkan lembaga
baru, berguna untuk menjawab berbagai isu persoalan yang di hadapi suku
Nias. Terutama dalam menghengkang ketertindasan, pembodohan, dan
ketidakadilan, Pemuda sebagai pelaku utama dalam agent of change, dalam
gerakan-gerakan pembaharuan memiliki makna yaitu sekumpulan manusia
intelektual, memandang segala sesuatu dengan pikiran jernih, positif,
kritis yang bertanggung jawab, dan dewasa.
Untuk itu kata Dofu, " Pemuda jangan jadi pencundang tetapi jadilah pemuda pemberani ," tegasnya.
Ketum AJH sangat menyayangkan, peran pemuda kekinian
semakin lemah, Jiwa kritis Mahasiswa semakin luntur akibat termakan oleh
penggunaan teknologi yang semakin canggih. Padahal kecanggihan
teknologi yang semakin tinggi tersebut, harusnya menjadi inspirasi untuk
berkarya dan berinovasi.
Dofu berharap, Menantikan gerakan pemuda (Mahasiswa) yang
disebut-sebut sebagai pelopor perubahan. Untuk itu, para pemuda harus
mampu bermetamorfosa menjadi penerus tombak estafet pembangunan di Nias,
dengan intelegensinya bisa mendobrak pilar-pilar kehampaan terutama di
di 5 Kab/Kota Nias. Akhir kata Dofu menuturkan, LPN jangan mau menjadi lembaga
yang biasa - biasa saja, akan tetapi dalam setiap gerakannya walaupun Harus Menantang Arus Tetapi secara intelek, " Selagi lagi tubuh ini kuat, Biarlah menjadi
berkat bagi sesama. LPN hadir untuk melayani bukan dilayani tanpa
membeda - bedakan status kaya dan miskin," tuturnya.
Puncak Agenda Yang Dibahas pada pertemuan ini adalah terfokus pada pemilihan nama organisasi yang tepat dan sesuai dengan karakter Kesatria yang menjunjung tinggi Keadilan dengan tindakan dan dasar pemikiran yang Inelektual, setelah itu lanjut pemiliha Logo Yang Tepat Yang Mencerminkan Alat alat Tarian Perang Suku Nias yang sudah dikenal di Manca Negara Yaitu Baluse (Tameng/ Perisai), Toho (Tombak), Foda (Kelewang).
Penulis : Onekhesi Lawolo/Tim.
Editor : Edy MDNews 01.
Tags
Hukum dan kriminal

