Medan, mediadunianews.co - Satuhati Sarumaha alias Frans pada Rabu (25/4) siang tampak masih terbaring lemah dengan kondisi memprihatinkan di Rumah Sakit Umum Haji Pemprov Sumut dan menunggu kabar ditangkapnya para pelaku pengroyokan terhadap dirinya.
Aksi pengeroyokan terhadap pria yang bekerja sebagai penarik becak dayung ini terjadi pada Jumat (19/4) lalu sekira pukul 23.30 WIB di pasar MMTC Jalan Pancing Medan Tembung.
Kejadian yang nyaris menewaskan dirinya tersebut bermula pada dua pekan sebelum terjadinya aksi pengeroyokan. Saat itu, Frans sedang menunggu sewa di area parkir Pasar MMTC dan korban duduk diatas becak bersama tiga orang temannya yang bernama Refe alias Ama Sena, Waris Fa'ana dan saya sendiri.
Tiba-tiba petugas parkir yang sekaligus keamanan MMTC datang menghampiri Frans sambil menghardiknya.
"Jangan kau parkir disitu," ulangi Frans atas kata dari petugas parkir yang juga mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh. Karena sudah terbiasa mangkal di lokasi tersebut, Frans mencoba mengingatkan tukang parkir tersebut.
"Cakap abang itu, jangan maki-maki kami, kami ini manusia bukan binatang, " ungkap Frans kepada tukang parkir Pasar MMTC saat itu.
Mendengar ucapan korban, kemudian dengan arogan dan sambil mengacak pinggang.
"Kau Nias baik-baik kau, kupijak-pijak kau disini, gitu katanya. Gak terima aku, " ucap Frans.
Tepat pada Sabtu (19/4/2019) sekitar pukul 22:00 WIB, para pelaku yang saat itu mengenakan baju kaos bertuliskan keamanan pasar MMTC dengan mengendarai sepeda motor Ninja terlihat mondar-mandi di dekatnya.
"Awalnya saya tidak curiga sekali pun pelaku utama itu mondar-mandir melihat saya, ketika itu, saya asik melihat HP Androidku karena ada firasat tidak enak lalu saya pindahkan becak saya ke kedai kopi pak Nomi Laoly, "ungkap Frans.
Frans pun di buntuti kemana korban berjalan. Selanjutnya, korban memberanikan diri bertanya kepada pelaku.
"kenapa abang dari tadi lihat-lihat saya, " kata Frans kepada pelaku yang kemudian membalasnya dengan ancaman akan dibantai.
Percekcokan terjadi, pelaku yang naik darah dan dengan beringas mengejar korban sambil menenteng pipa besi coran. Frans terus berlari menghindari pelaku untuk menyelamatkan diri. Sekitar 10 orang lebih teman-teman pelaku turut mengejar korban. Karena kalah banyak, akhirnya korban dihujani dengan hantaman kayu dan bambu di punggung, muka ditinju dan kepala dihantam pake besi hingga banyak mengeluarkan darah.
"Karena banyak mengeluarkan darah, saya tak sadar diri dan saya kirain saya ini sudah mati di keroyok sama para pelaku yang merupakan petugas keamanan di MMTC, " tutur korban.
Tak terima temannya dianiaya sasaran dari korban, Arisman Dakhi (36) mendatangi Polrestabes Medan untuk membuat laporan dengan nomor STPL/857/IV YAN. 2.5/2019/SPKT Polrestabes Medan.
Atas kejadian ini, korban berharap agar pihak kepolisian Polrestabes Medan segera menangkap para pelaku dan memprosesnya sesuai dengan hukum yang berlaku. (zato)
Editor : Edy MDNews 01.
Aksi pengeroyokan terhadap pria yang bekerja sebagai penarik becak dayung ini terjadi pada Jumat (19/4) lalu sekira pukul 23.30 WIB di pasar MMTC Jalan Pancing Medan Tembung.
Kejadian yang nyaris menewaskan dirinya tersebut bermula pada dua pekan sebelum terjadinya aksi pengeroyokan. Saat itu, Frans sedang menunggu sewa di area parkir Pasar MMTC dan korban duduk diatas becak bersama tiga orang temannya yang bernama Refe alias Ama Sena, Waris Fa'ana dan saya sendiri.
Tiba-tiba petugas parkir yang sekaligus keamanan MMTC datang menghampiri Frans sambil menghardiknya.
"Jangan kau parkir disitu," ulangi Frans atas kata dari petugas parkir yang juga mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh. Karena sudah terbiasa mangkal di lokasi tersebut, Frans mencoba mengingatkan tukang parkir tersebut.
"Cakap abang itu, jangan maki-maki kami, kami ini manusia bukan binatang, " ungkap Frans kepada tukang parkir Pasar MMTC saat itu.
Mendengar ucapan korban, kemudian dengan arogan dan sambil mengacak pinggang.
"Kau Nias baik-baik kau, kupijak-pijak kau disini, gitu katanya. Gak terima aku, " ucap Frans.
Tepat pada Sabtu (19/4/2019) sekitar pukul 22:00 WIB, para pelaku yang saat itu mengenakan baju kaos bertuliskan keamanan pasar MMTC dengan mengendarai sepeda motor Ninja terlihat mondar-mandi di dekatnya.
"Awalnya saya tidak curiga sekali pun pelaku utama itu mondar-mandir melihat saya, ketika itu, saya asik melihat HP Androidku karena ada firasat tidak enak lalu saya pindahkan becak saya ke kedai kopi pak Nomi Laoly, "ungkap Frans.
Frans pun di buntuti kemana korban berjalan. Selanjutnya, korban memberanikan diri bertanya kepada pelaku.
"kenapa abang dari tadi lihat-lihat saya, " kata Frans kepada pelaku yang kemudian membalasnya dengan ancaman akan dibantai.
Percekcokan terjadi, pelaku yang naik darah dan dengan beringas mengejar korban sambil menenteng pipa besi coran. Frans terus berlari menghindari pelaku untuk menyelamatkan diri. Sekitar 10 orang lebih teman-teman pelaku turut mengejar korban. Karena kalah banyak, akhirnya korban dihujani dengan hantaman kayu dan bambu di punggung, muka ditinju dan kepala dihantam pake besi hingga banyak mengeluarkan darah.
"Karena banyak mengeluarkan darah, saya tak sadar diri dan saya kirain saya ini sudah mati di keroyok sama para pelaku yang merupakan petugas keamanan di MMTC, " tutur korban.
Tak terima temannya dianiaya sasaran dari korban, Arisman Dakhi (36) mendatangi Polrestabes Medan untuk membuat laporan dengan nomor STPL/857/IV YAN. 2.5/2019/SPKT Polrestabes Medan.
Atas kejadian ini, korban berharap agar pihak kepolisian Polrestabes Medan segera menangkap para pelaku dan memprosesnya sesuai dengan hukum yang berlaku. (zato)
Editor : Edy MDNews 01.
Tags
Hukum dan kriminal
