Nias Selatan, mediadunianews.co - 16 Februari 2019 Pengerjaan Jembatan idano O'OU Kecamatan O'OU di Nias Selatan, Sumatera Utara yang bersumber dari APBN dengan nilai anggaran -+ Rp 35 Milyar disinyalir sarang korupsi.
PT. Jaya Sukses Prima yang mengerjakan proyek tersebut diduga kurang profesional dan tidak patut pada ketentuan yang disyaratkan oleh Kementrian PUPR/Balai PUPR Sumatera Utara di Medan. Diduga kuat terjadi mark-up pada material yang digunakan dan penggalian tiang Bor-pile yang tidak sesuai pada speksifikasi, Atas pemantauan tim dilapangan bahwa pekerjaan tersebut tidak sesuai spek yang ada, "ujar Sudirman Ziliwu aktivis penggiat anti korupsi dan juga selaku Sekretaris GMPK Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi) Sumatera Utara.
Tampak pada gambar, foto fisik dilapangan ada kejanggalan pada proyek tersebut dimana material yang digunakan tidak melalui Stone Crhuser (Pemecah Batu). Ini proyek APBN bukan APBD kabupaten, jadi pihak rekanan harus taat aturan, jangan asal-asalan dong, karena nantinya cepat rusak, yang nikmati kan masyarakat, termasuk saya karena saya masyarakat Nias, "imbuh Sudirman Ziliwu.
Pemasangan Cincin Bor pile juga di potong-potong, sekaligus peralatan yang digunakan tidak memadai sebagaimana dalam dokumen kontrak. ada apa di balik semua ini?. Atas wawancara tim kita disana kepada pengawas lapangan perusahaan PT. Jaya Sukses Prima menyebut bahwa alasan cincin Bor pile dipotong karena ada yang rusak.jadi,PUPR tidak mau terima makanya dipotong dan dipasang. Nah, ini sangat fatal sekali dan disinyalir adanya kongkalikong dengan PUPR/Balai Sumatera Utara, seharusnya-kan bisa diganti dengan yang baru. jangan yang sudah rusak atau seken dipakai lagi, cincin bor pile tak boleh dipotong sebagaimana yang telah ditentukan digambar oleh Kementrian PUPR.
Izin Usaha Pertambangan/Stone Crusher yang mereka sampaikan sebagai sumber material tak bisa dikasi-tunjukkan kepada rekan dilapangan dengan alasan bahwasannya stone crusher tersebut milik WABUP kata pak siahaan sebagai koordinator lapangan kepada rekan dilapangan. Rekan merasa aneh dilapangan.emangnya Izin Usaha Pertambangan tersebut Wabup yang keluarkan?
Sebab dugaan kita material di ambil dari sungai O'OU itu sendiri jadi tidak melalui Stone Crusher, itu menyalahi ketentuan. Begitulah hasil pemantauan tim kita dilapangan di Jembatan O'OU 14 Feb. 2019, ketika tanya jawab dengan pak Siahaan selaku koordinator rekanan proyek Jembatan O'OU.
Banyak hal janggal yang harus segera di audit oleh BPK RI proyek jembatan O'OU tersebut, karena ada penyelewengan anggaran.Negara tidak boleh membayar jika material yang digunakan tidak melalui Stone Crusher yang memiliki IUP. Balai PUPR Sumatera Utara supaya segera meklarifikasi bahwa pengerjaan proyek jembatan O'OU telah melewati masa pelaksanaan dan hinggah hari ini fisik dilapangan masih belum siap, kami akan terus pantau dan segera melaporkan kepada KPK RI jika BPK RI Wilayah sumatera utara untuk segera mengaudit. Sebelumnya tender proyek tersebut sarat rekayasa dan Mahasiswa, Masyarakat Nias telah melakukan Aksi di Balai PUPR Sumatera Utara, di medan pada waktu itu dan kemungkinan mereka akan kembali melakukan Orasi untuk menyampaikan dan tagih janji-janji pihak Balai PUPR bahwa kondisi pengerjaan dilapangan tidak sesuai. Sudir Zil mengakhiri sebagai aktivis penggiat anti korupsi sumatera utara. (Tadeus halawa)
Editor : Edy MDNews 01.
PT. Jaya Sukses Prima yang mengerjakan proyek tersebut diduga kurang profesional dan tidak patut pada ketentuan yang disyaratkan oleh Kementrian PUPR/Balai PUPR Sumatera Utara di Medan. Diduga kuat terjadi mark-up pada material yang digunakan dan penggalian tiang Bor-pile yang tidak sesuai pada speksifikasi, Atas pemantauan tim dilapangan bahwa pekerjaan tersebut tidak sesuai spek yang ada, "ujar Sudirman Ziliwu aktivis penggiat anti korupsi dan juga selaku Sekretaris GMPK Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi) Sumatera Utara.
Tampak pada gambar, foto fisik dilapangan ada kejanggalan pada proyek tersebut dimana material yang digunakan tidak melalui Stone Crhuser (Pemecah Batu). Ini proyek APBN bukan APBD kabupaten, jadi pihak rekanan harus taat aturan, jangan asal-asalan dong, karena nantinya cepat rusak, yang nikmati kan masyarakat, termasuk saya karena saya masyarakat Nias, "imbuh Sudirman Ziliwu.
Pemasangan Cincin Bor pile juga di potong-potong, sekaligus peralatan yang digunakan tidak memadai sebagaimana dalam dokumen kontrak. ada apa di balik semua ini?. Atas wawancara tim kita disana kepada pengawas lapangan perusahaan PT. Jaya Sukses Prima menyebut bahwa alasan cincin Bor pile dipotong karena ada yang rusak.jadi,PUPR tidak mau terima makanya dipotong dan dipasang. Nah, ini sangat fatal sekali dan disinyalir adanya kongkalikong dengan PUPR/Balai Sumatera Utara, seharusnya-kan bisa diganti dengan yang baru. jangan yang sudah rusak atau seken dipakai lagi, cincin bor pile tak boleh dipotong sebagaimana yang telah ditentukan digambar oleh Kementrian PUPR.
Izin Usaha Pertambangan/Stone Crusher yang mereka sampaikan sebagai sumber material tak bisa dikasi-tunjukkan kepada rekan dilapangan dengan alasan bahwasannya stone crusher tersebut milik WABUP kata pak siahaan sebagai koordinator lapangan kepada rekan dilapangan. Rekan merasa aneh dilapangan.emangnya Izin Usaha Pertambangan tersebut Wabup yang keluarkan?
Sebab dugaan kita material di ambil dari sungai O'OU itu sendiri jadi tidak melalui Stone Crusher, itu menyalahi ketentuan. Begitulah hasil pemantauan tim kita dilapangan di Jembatan O'OU 14 Feb. 2019, ketika tanya jawab dengan pak Siahaan selaku koordinator rekanan proyek Jembatan O'OU.
Banyak hal janggal yang harus segera di audit oleh BPK RI proyek jembatan O'OU tersebut, karena ada penyelewengan anggaran.Negara tidak boleh membayar jika material yang digunakan tidak melalui Stone Crusher yang memiliki IUP. Balai PUPR Sumatera Utara supaya segera meklarifikasi bahwa pengerjaan proyek jembatan O'OU telah melewati masa pelaksanaan dan hinggah hari ini fisik dilapangan masih belum siap, kami akan terus pantau dan segera melaporkan kepada KPK RI jika BPK RI Wilayah sumatera utara untuk segera mengaudit. Sebelumnya tender proyek tersebut sarat rekayasa dan Mahasiswa, Masyarakat Nias telah melakukan Aksi di Balai PUPR Sumatera Utara, di medan pada waktu itu dan kemungkinan mereka akan kembali melakukan Orasi untuk menyampaikan dan tagih janji-janji pihak Balai PUPR bahwa kondisi pengerjaan dilapangan tidak sesuai. Sudir Zil mengakhiri sebagai aktivis penggiat anti korupsi sumatera utara. (Tadeus halawa)
Editor : Edy MDNews 01.
Tags
Teknologi
