Pedagang Pasar Aksara Ingatkan: "Pak Jokowi, jangan lupa surat kami dibaca".

Medan , MDNews - Para pedagang Pasar Aksara menulis sebuah surat kepada Presiden Jokowidodo pada saat kunjugannya beberapa hari yang lalu dengan isinya sebagai berikut :

"Bapak Presiden yang terhormat, kami berangkat dari Medan menuju Siosar, kabupaten Karo hanya ingin menemui Bapak untuk menyampaikan keluhan/kesedihan kami yaitu pasar tradisonal Aksara Medan adalah pasar rakyat yang dibangun tahun 1990 sebanyak 850 kios/stand dan terbakar pada 12
Juli 2016 hingga sekarang belum dibangun kembali..."

Demikian penggalan surat yang berisi kesedihan juga harapan dari para pedagang trasional pasar Aksara Medan. 12 orang pedagang pasar Aksara mengantarkannya langsung ke lokasi kunjungan Presiden RI Jokowidodo di pengungsian Gunung Sinabung, Siosar, Tigapanah, Kabupaten Tanah Karo Provinsi
Sumatera Utara beberapa waktu silam.

Surat itu tidak gampang untuk bisa samapai dan diterima oleh Presiden Jokowidodo.Senin (16/10/2017) sore, beberapa pedagang Aksara menceritakan perjuangan mereka tersebut. Mereka adalah
Rismaurina (52), Yuni Lubis (49), Kim Yang (44), Rizal Sembiring (39).

Begitu sampai di Siosar, ke 12 Pedagang Aksara ini memencar di tengah kerumunan masyarakat yang hadir saat kunjungan Presiden Jokowidodo. Masing-masing dari mereka membawa secarik surat yang sudah mereka buat dan perbanyak.

"Kami sudah bawa surat. masing-masing kami pegang. Jadi siapa yang berhasil terlebih dahulu menjumpai Presiden, merekalah yang bertugas memberikan surat itu kepada Jokowidodo," Ujar Rismaurina.

Penjagaan ketika itu sangat ketat dan berlapis. ada puluhan petugas baik laki-laki maupun perempuan mereka ingatmembentengi langkah mereka untuk mendekat ke Presiden, Selain surat, ternyata mereka juga sudah menyelipkan poster yang rencananya akan mereka keluarkan di depan Jokowidodo, "Ya, kami udah pesiapkan poster saat itu. Tapi kami urungkan niat tersebut, gak jadi kami pampang" Ujar Yuni Lubis.

Penjagaan yang begitu ketat bukan berarti menyulutkan tekad mereka untuk menyampaikan surat mereka. Yuni Lubis kemudian mengambil inisiatif serupa. Mereka menyeruduk di kerumunan.
Menembus blokade massa dan pengamanan presiden. Namun, tidak berhasil. keduanya hanya bisa memndangi Jokowidodo dari jarak 5 meter. Yuni yang hampir putus asa, lengannya pun kesakitan karena ditarik agar menjauh dari Presiden Jokowidodo. Ia sedih dan menangis. Hal itu yang kemudian
mencuri perhatian dari Presiden Jokowidodo hingga mendatanginya "kenapa menangis? pak kami korban kebakaran Pasar Aksara, Uwis, jangan menangis lagi," ujar Yuni mengulangi dialog
antara dirinya dan Presiden Jokowidodo.

Saat itu pula, Yuni langsung memberikan surat keluhan pedagang Aksara Medan kepada Presiden Jokowidodo. Itu kali pertama, ia berjumpa dengan Presiden Jokowidodo. Meski singkat ia ingat betul, senyum ramah seorang presiden, Jabat tangan dan yang paling penting pengantaran surat sebagai misi utama selesai ia jalankan.

Ia dan ratusan pedagang Aksara lainnya percaya, bahwa surat yang diberikan mereka kepada Presiden Jokowidodo dibaca dan permaslahan mereka dapat dengan segera diselesaikan, "Pak Jokowi, jangan lupa baca surat kami. Saya baru pertama kali bertemu Presiden. Meski saya tidak kenal bapak secara
baik, tapi saya dan ratusan pedagang Aksara Medan yakin kalau Pak Jokowi dapat memberikan solusi terhadapa nasib kami," harap Yuni dengan berkaca-kaca.

Sudah satu tahun tiga bulan, ratusan pedagang Pasar Aksara Medan tidak mendapat status yang jelas tentang tempat jualan mereka. Kebakaran itu menghanguskan hampir semua barang milik pedagang di sana. Mereka tidak hanya rugi materil tapi juga tidak mendapatkan kejelasan tentang pasar Aksara pascakebakaran. Kini, mereka berjualan di tengah jalan sebagai aksi protes kepada pemerintah Kota Medan. (Zato).

Editor : Edy MDNews 01.


Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال