" TUKANG PANGKAS SUSAH CARI MAKAN BUKAN MATI KARNA VIRUS CORONA (COVID-19), TAPI MATI KELAPARAN "

TANAH KARO, Mediadunianews.com - “Kalau begini terus, kami bukan mati karena corona (COVID-19), tapi mati karena kelaparan,”

Begitu suara hati Yn.Zai (31) seorang tukang Pangkas di kecamatan sipang empat, Kabupaten Karo yang dua hari ini pulang ke rumah tanpa membawa uang.

Adanya imbauan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah demi antisipasi virus corona (COVID-19) membuat penghasilan tukang Pangkas berkurang drastis.

Tak hanya Yn, ia dan kawan-kawanya dikawasan Berastagi Kab, Karo hanya duduk diam melamun, berharap masih ada beberapa orang yang datang menggunakan jasanya hanya sekadar untuk mendapat uang makan.

Yn, misalnya, sudah sejak pukul 07.30 WIB mangkal di tempat ia kerja Tapi, namun hingga sore belum juga datang pasien untuk pangkas rambut.

Sambil menunggu pasien Yn biasanya mendengarkan radio menggunakan handphone, mendapatkan berita baru soal pandemi corona.

Sambil berharap-harap cemas kapan musibah ini akan berakhir supaya ia bisa kembali banyak mendapat pelangang seperti pada hari yang sebelumnya.

“Biasanya sehari bisa dapat Rp 130 ribu, sekarang dapat Rp 10 ribu saja bersyukur,” ungkap Yn, Kamis (2/4/2020).

Kejadian ini sering ia dapatkan semenjak pemerintah menerapkan WFH.

Tak banyak warga yang keluar dari rumah, berimbas pada pendapatan Yn dan kawan-kawan.

Alhasil, sehari pun ia mangkal, tak membawa uang sama sekali untuk anak dan istri di rumah.

“Kami masih bisa nahan makan, tapi enggak tega enggak kasih anak uang jajan,” ucap Yn zai

Untuk memenuhi kebutuhan pangan setiap hari, ia mengandalkan barang-barang di rumahnya untuk dijual.

Uang hasil penjualan tersebut, ia gunakan untuk makan seadanya.

“Udah kejual galon sama kompor. Belum aja baju-baju kita jual untuk makan,” kata dia yang sudah 5 tahun menjadi tukang Pangkas di  Berastagi Kab. Karo.

Yn yang masih menghidupi istri dan anak bungsunya yang masih duduk di bangku TK itu mengaku ikut prihatin dengan kondisi dunia akibat pandemi corona ini.

Namun ia tak memungkiri imbas dari keputusan pemerintah untuk isolasi diri di rumah cukup membuat ia dan rekan seprofesinya terpuruk.

“Jarang banget pulang bawa uang. Sekali dapat uang Rp 15 ribu. Biasanya saya belikan nasi untuk dimakan berdua istri dan anak. Ngopi aja saya ngutang, untung orangnya ngerti,” jelas Yn.

Sebetulnya, ia mendukung pemerintah apabila harus diberlakukan karantina wilayah atau isolasi di rumah.

Ia percaya apa yang dilakukan pemerintah adalah sebuah usaha untuk mengembalikan Indonesia kembali seperti sebelum wabah ini muncul.

Namun ia berharap pemerintah menengok ke masyarakat kelas bawah yang pendapatan hari ini digunakan untuk makan hari ini.

“Kalau mau lockdown, lockdown saja lah tidak apa. Tapi pikirkan juga nasib kami gimana. Tidak dapat penghasilan, berarti kami tidak makan,” ujarnya.

Yn mengaku saat ini hanya memasrahkan hidupnya pada Tuhan yang maha kuasa, meski ancaman virus corona berada di mana-mana.

Pasalnya, jika ia tidak keluar untuk kerja satu hari, ia tak bisa memberi keluarganya nafkah.

“Gimana ya, kalau begini terus, kami bukan mati karena virus corona, tapi mati karena kelaparan,” ucap dia. (YN zai)
Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال